Untuk beberapa hal di dunia, memang tidak ada jawabannya. Minimal jika menemukan, itu adalah kepingan paling ringan dari jawaban yang sebenarnya. Atau bahkan justru bukan jawabannya sama sekali, karena memang hanya untuk memenuhi sebuah pertanyaan yang perlu jawaban. Sebagai contoh sederhana, seseorang yang sangat penakut akan membuat jawaban atas kejadian horor yang menimpa dirinya. Hal tersebut dilakukan untuk membuat dirinya tidak bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Misal ada pocong/kuntilanak atau apapun itu sedang memencet bel rumahnya, lalu seseorang yang sangat penakut menyimpulkan beberapa jawaban seperti, oh mungkin ada bocah mainan bel, oh mungkin belnya terkena getaran atau terkena angin, dan segala kemungkinan logis yang mungkin terjadi.
Kadang hal tersebut terbawa ketika dia menanyakan sebuah alasan. Rasa tidak terima atas alasan muncul ketika dia mendapatkan alasan yang menurutnya alasannya bukanlah itu. Dia berpikir bahwa dia tau alasannya sebenarnya adalah A atau B atau C. Dan seringkali justru alasan2 itu adalah sebuah alasan tipuan yang muncul seperti ketika bel rumah ada yang memencet. Si sumber masalah memberikan alasan palsu agar si penakut tidak kembali menanyakan dan menerima kejadiannya. Atau si sumber masalah memberikan alasan sebenarnya agar si penakut tidak kembali menanyakan. Dan ternyata menurut si penakut alasnya bukanlah keduanya namun satu yang dia yakini dan jauh dari sumber masalah yang sedang dibahas, dan itu pun sah sah saja. Seperti ketika bang Beben ditanya kenapa anda memilih menjadi musisi jazz, bang Beben menjawab bahwa dari pengalaman hidupnya yang dulu pernah menjadi atlit lalu menjadi programmer dst itu adalah pengalaman hidup yang sangat jazz sekali maka dari itu dia merasa cocok dan menyukai jazz sehingga dia memilih menjadi musisi jazz. Sebenarnya bisa saja bang Beben dengan singkat menjawab jazz itu saya banget setiap lantunan musik nya saya suka. Atau alasan lain yang lebih keren.
Hal tersebut sering terjadi di media dan berita yang tersebar di masyarakat. Akhirnya banyak orang berkesimpulan bahwa alasan bisa dibuat, alasan bisa dikonstruksi sedemikian rupa, dan semua itu sah sah saja. Toh pada akhirnya seseorang hanya akan berpegang teguh pada alasannya masing2 dan alasan masing2 orang selalu ada benarnya. Seringkali kita ribut dengan alasan seseorang yang dirasa tidak masuk akal dan cenderung mengada ada. Seperti halnya alasan pak Setya Novanto yang sebagian besar anggapan masyarakat (mungkin memang iya tapi beliau membantah) tertidur ketika di pernikahan Kahiyang. Menurutnya dia tidak tidur tetapi terlalu khusyuk berdoa saat itu.
Pada level itu masyarakat menganggap yaaa sudahlah mau gimana lagi. Tetapi di level yang lain suatu alasan akan membuat orang menyadari sesuatu sehingga menjadi suatu motif. Meskipun sebenarnya ya bebas saja apapun alasannya yang penting adalah bagaimana kita merespon suatu tindakan dengan baik dengan segala kemampuan yang dimiliki manusia.
.....Tbc...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar