Economic Calendar

Kamis, 25 Januari 2018

Jakarta Kota Yang Penuh Serigala


Jakarta kota yang penuh serigala, Johanson sangat tertarik dengan kaos itu, dia melihatnya kaos itu dipakai tukang nasi goreng yang dia beli ketika tengah malam di Cikini. Bagi Johanson yang sangat konspiratif pikirannya, timbul pertanyaan dalam pikirannya, siapa yang mengkonstruksikan itu? Bagi Johanson Jakarta bukan penuh dengan serigala, melainkan penuh dengan aksara. Setiap jalannya berdesis, setiap apa yang diatas jalan berbicara bahkan kadang mereka berteriak. Bahkan di gedung yang tak bermakna pun mereka terbaca dan berbicara sebagiamana sebuah aksara. Johanson berfikir bahwa itulah yang sebenarnya terjadi. Meskipun begitu dia juga meyakini kalau itu hanyalah batasan pikirannya mengenai Jakarta. Dia kembali berfikir dan meyakini bahwa selalu ada harapan bagi anak muda yang tersenyum, teriring doa disetiap keluarga di Jakarta, mereka selalu berharap semua baik-baik saja, tetap tersenyum dan bercerita bersama di rumahnya, apa yang mereka bangun hanya untuk kebahagiaan, apa yang mereka panjatkan hanya untuk kebahagiaan, setiap harinya untuk kebahagiaan. Sangat menyenangkan betapa mudahnya mereka bahagia, tidak terlintas aksara seperti yang dilihat Johanson, mereka tidak memerlukan aksara seperti Johanson, dan kebanyakan mereka bahagia tanpa aksara. 

Akhirnya sebelum Johanson membayar nasi gorengnya dan beranjak pulang dia menyimpulkan jika mereka memang bahagia tanpa harus ada aksara, meski mereka tidak tahu apa yang mereka sebut sebagai serigala, meski serigala tidak tahu apa itu aksara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar