Bersinar di malam hari
Berani menerima nurani
Berkerja untuk menemani
Bermain untuk menikmati
Makan tiada berhenti
Tidur bersama pelangi
Bersembunyi dibalik jerami
Terkapar berhenti bernyanyi
Terdiam menemani mentari
Tergulung bersama hakiki
Bertapa tak mengenali
Terbangun kala tak berani
Kalimat yang mengakhiri
Kehidupan terkulai
Economic Calendar
Senin, 26 Februari 2018
E é
Bliss Growing Thinker (Part 1)
Untuk beberapa hal di dunia, memang tidak ada jawabannya. Minimal jika menemukan, itu adalah kepingan paling ringan dari jawaban yang sebenarnya. Atau bahkan justru bukan jawabannya sama sekali, karena memang hanya untuk memenuhi sebuah pertanyaan yang perlu jawaban. Sebagai contoh sederhana, seseorang yang sangat penakut akan membuat jawaban atas kejadian horor yang menimpa dirinya. Hal tersebut dilakukan untuk membuat dirinya tidak bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Misal ada pocong/kuntilanak atau apapun itu sedang memencet bel rumahnya, lalu seseorang yang sangat penakut menyimpulkan beberapa jawaban seperti, oh mungkin ada bocah mainan bel, oh mungkin belnya terkena getaran atau terkena angin, dan segala kemungkinan logis yang mungkin terjadi.
Kadang hal tersebut terbawa ketika dia menanyakan sebuah alasan. Rasa tidak terima atas alasan muncul ketika dia mendapatkan alasan yang menurutnya alasannya bukanlah itu. Dia berpikir bahwa dia tau alasannya sebenarnya adalah A atau B atau C. Dan seringkali justru alasan2 itu adalah sebuah alasan tipuan yang muncul seperti ketika bel rumah ada yang memencet. Si sumber masalah memberikan alasan palsu agar si penakut tidak kembali menanyakan dan menerima kejadiannya. Atau si sumber masalah memberikan alasan sebenarnya agar si penakut tidak kembali menanyakan. Dan ternyata menurut si penakut alasnya bukanlah keduanya namun satu yang dia yakini dan jauh dari sumber masalah yang sedang dibahas, dan itu pun sah sah saja. Seperti ketika bang Beben ditanya kenapa anda memilih menjadi musisi jazz, bang Beben menjawab bahwa dari pengalaman hidupnya yang dulu pernah menjadi atlit lalu menjadi programmer dst itu adalah pengalaman hidup yang sangat jazz sekali maka dari itu dia merasa cocok dan menyukai jazz sehingga dia memilih menjadi musisi jazz. Sebenarnya bisa saja bang Beben dengan singkat menjawab jazz itu saya banget setiap lantunan musik nya saya suka. Atau alasan lain yang lebih keren.
Hal tersebut sering terjadi di media dan berita yang tersebar di masyarakat. Akhirnya banyak orang berkesimpulan bahwa alasan bisa dibuat, alasan bisa dikonstruksi sedemikian rupa, dan semua itu sah sah saja. Toh pada akhirnya seseorang hanya akan berpegang teguh pada alasannya masing2 dan alasan masing2 orang selalu ada benarnya. Seringkali kita ribut dengan alasan seseorang yang dirasa tidak masuk akal dan cenderung mengada ada. Seperti halnya alasan pak Setya Novanto yang sebagian besar anggapan masyarakat (mungkin memang iya tapi beliau membantah) tertidur ketika di pernikahan Kahiyang. Menurutnya dia tidak tidur tetapi terlalu khusyuk berdoa saat itu.
Pada level itu masyarakat menganggap yaaa sudahlah mau gimana lagi. Tetapi di level yang lain suatu alasan akan membuat orang menyadari sesuatu sehingga menjadi suatu motif. Meskipun sebenarnya ya bebas saja apapun alasannya yang penting adalah bagaimana kita merespon suatu tindakan dengan baik dengan segala kemampuan yang dimiliki manusia.
.....Tbc...
Sabtu, 24 Februari 2018
Let's make the bliss grow
Ketika itu aku berbicara seperti motivator, atau minimal orator kosong. Semua yang aku katakan seolah benar dan harus diikuti setiap orang. Tapi aku salah, itu bukan diriku.
Aku hanya ingin menulisnya di sini. Tapi ternyata benar, aku benar2 salah. Iblis atau minimal pasukannya akan tau niat buruku. Dia akan mencegah ku untuk bertemu dengan yang ingin ku temui. Aku hanya ingin diam sekarang. Aku yakin ini semua sudah diatur.
Rabu, 21 Februari 2018
Uwit (part 1)
Witing tresno jalaran soko kulino. Seringkali kita dengar mengenai ungkapan ini terutama dikalangan orang tua dan remaja berkepala 2 ¹/² lebih. Ungkapan ini seolah menunjukkan bahwa tresno/cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Seiring kebersamaan yang dibangun dan aktivitas yang dilakukan seseorang akan tumbuh cinta yang mengikat satu sama lain. Beberapa aspek aktivitas membuat cinta itu rasional, jika dilihat dari logika kulino (terbiasa) nya itu. Terbiasa makan bareng, pulang bareng, tinggal bareng, sehingga tumbuh kebiasaan2 bareng yang membuat keduanya terikat dan akhirnya memiliki tresno itu. Akhirnya tresno yang perannya menyatukan tersebut terejawantahkan/tersalurkan/terhadirkan/terselenggara melalui kebersamaan aktivitas sehingga mereka terikat dan membangun kehidupan yang menunjang aktivitas yang dilakukan bersama.
Disisi lain ungkapan ini diawali dengan kata witing. Seringkali orang tidak benar2 peduli tentang arti yang lebih dari ungkapan ini. Pokoknya artinya itu cinta itu tumbuh karena terbiasa atau bisa lama2 cinta karena terbiasa sama orangnya atau karena terbiasa sama itu orang jadi lama2 cinta. Kurang lebih simple nya seperti itu. Saya akan mencoba sok tau untuk mengartikan ungkapan ini. Kalau dilihat lagi dalam ungkapan ini menggunakan kata witing. Wit atau uwit itu artinya pohon, sedangkan witing artinya memohon atau memohonnya. Jadi kurang lebih artinya menjadi memohonnya cinta itu karena terbiasa. Meskipun menurut saya belum tentu karena terbiasa. Berbicara pohon maka berbicara tentang pertumbuhan. Berbicara pohon berbicara juga tentang susunan. Karena pohon yang tumbuh pasti ada penyusunnya seperti akar batang daun dst. Sebelum sebuah pohon tumbuh pasti ada yang ditanamkan/menanamkan. Inilah yang menjadi cikal bakal tresno itu tadi. Artinya ada suatu bentuk kerjasama antar 2 manusia atau lebih yang saling menanam atau merawat pohon tersebut. Sehingga pohon tersebut dapat dinikmati bersama.
Jika berbicara konteks ke"kulino"an dari dua orang yang beraktivitas bersama maka witing nya adalah pohon apa yang mereka tanam dan sampe sejauh mana pohon itu akan tumbuh dan berguna bagi mereka. Jika berbicara sebuah percintaan dari dua orang maka bisa menggunakan ke"kulino"an itu tadi atau witing. Witing untuk kedua orang ini bisa terjadi tanpa adanya pertemuan sebelumnya atau langsung ketika pertama kali ketemu langsung merasakan adanya tresno itu. Artinya witing disini adalah apa yang mereka pohon kan. Sering mungkin kita hanya memahami "memohon" itu meminta dan kata dasarnya adalah "mohon" kalu boleh saya sok tau maka memohon itu kata dasarnya adalah "pohon". Jika manusia menohon untuk urusan tresno maka urusannya adalah memohon kepada Tuhan/yang dia percaya dapat memberikan cinta. Disini yang terjadi adalah pohon yang telah tumbuh sampai ke Tuhan atau sususnan2 yang sampai ke Tuhan dijawab oleh Tuhan dengan hadirnya sosok yang membantu untuk merawat dan menjaga pohon tersebut. Artinya kedua orang yang saling bertemu dan jatuh cinta dikehendaki oleh Tuhan untuk merawat pohon tersebut. Yang mana nantinya hasil atau buahnya dapat dinikmati bersama. Atau pohon tersebut mengantarkan mereka kepada Tuhan untuk bertemu Tuhan.
Mungkin yang menjadi pertanyaan adalah pohon itu apa? Atau susunannya itu apa?
Kita bisa menemukan jawabannya sendiri
.......to be continued....
Disclaimer: Saya yakin saya bukan orang pertama yang berfikir seperti ini. Saya yakin bukan hanya saya yang berpikir seperti ini. Kesamaan tulisan dan gagasan boleh diklaim milik siapapun. Gagasan yang tertulis murni sumbangan saya untuk pembaca.
Kamis, 15 Februari 2018
Another way to redefine (Part 1)
Di perjalanannya yang melelahkan, akhirnya Johansson memilih untuk istirahat di salah satu tower di Rasuna Said. Dia pikir di tempat itu dia lebih memiliki waktu sendiri, dia yakin ditempat itu dia tidak akan dipedulikan banyak orang. Tapi sepertinya keadaan berkata lain, justru dia yang perhatian dengan sekitanya. Dia mendengar percakapan mbak-mbak yang menurutnya lucu dan gagal dipahami.
"Eh selamat ya... Kamu kapan berangkat?"
"Nunggu tahap berikutnya, masih ada beberapa step lagi"
"Oh begitu tapi udah pasti berangkat kan?"
"Iya tapi nunggu El Pidipi buat cairin uangnya"
"Oh gitu, tapi yang penting dah pasti berangkat kan"
"Iya sih, btw kamu sekarang kerja disini?"
"Nggak ini lagi ada Ji Ar aja jadi emang harus kesini"
"Wah ada event apa?"
"Biasa dari kantor"
Bagi Johansson yang sangat tekstual mendengar kata, dia berpikir, sebenarnya mereka ini sedang bicara apa? Dia hanya menelaaah bahwa mbak-mbak itu sedang ada proyek dengan perusahaan Spanyol.
Hari itu sepertinya Johansson sangat beruntung, tidak lama setelah dia memikirkan percakapan mereka, salah satu mbak-mbak itu datang kepadanya.
"Hi, may I join you?" Kata mbak itu dengan nada yang (sok) asik
"Yea please" balas Johansson dengan setengah kikuk
"Are you alone?" tanya mbak itu
"Mm.. ya" Johansson bertindak sangat pasif karena dia pikir ini tidak akan penting
"I want to accompany you"
"But, I'm not gonna go anywhere"
Dan mbak itu menjawab dengan PD nya
"Oh thank you, I'm happy to hear that, I will accompany you here as long as you want"
"But I..." Belum selesai dia berbicara langsung ditimpali
"Yes I know you want me here for you yaa..." dengan nada "yaa.." nya yang sangat khas Indonesia
"Oh.. ok" dengan nada yang mengalah setengah terpaksa
"Yeaa yaa" ucap mbak itu dengan perasaan yang sangat bangga bahwa dia akan punya teman orang dengan ras kaukasia atau biasa disebut bule.
Johansson menyadari dia hanya akan salah paham jika dia membuat mbak itu berbicara bahasa Inggris terus.
"Hmm ok listen, saya bisa bahasa Indonesia kok.. kebetulan saya sebenarnya orang Indonesia orang tua saya berbahasa Indonesia, cuma kebetulan ibu saya orang Islandia jadi mungkin mbak mengira saya tidak bisa bahasa Indonesia" terang Johansson dengan gamblang.
Tercengang bercampur kaget mbak itu berkata
"Oooh... Mmm oh okey kalo gitu ngomong Indonésia aja ya" setengahnya dia merasa lega karena tidak usah capek-capek mikir bahasa Inggris
"Yaa santai aja saya ngerti bahasa Indonesia kok haha" imbuh Johansson sambil ketawa kecil
.......to be bersambung....